Kuliah Bukan Nggak Penting

Pendidikan menjadi hal yang amat perlu sebab bisa membentuk pola pikir, attitude, dan menambah khasanah ilmu. Hukum newton III melukiskan tiap tiap aksi membuahkan reaksi.

Reaksi menciptakan pembelajaran karya seni (keindahan), ekonomi (kebutuhan), peristiwa (pengalaman), dan bhs (keinginan). Jika pendidikan digunakan cuma untuk mencukupi keperluan makan, hewan atau tumbuhan pun bisa makan tanpa pendidikan.

Pendidikan adalah memanusiakan manusia. Tanpa pendidikan, manusia dapat direndahkan oleh manusia lain (penjajahan, perbudakan, rasisme, genosida, monopoli).

Pendidkan amat penting, jangan sebab tersedia statement orang tidak sekolah tetapi berhasil, menjadikan ciut niat. Opini saya, hal berikut suatu keberuntungan Tuhan bersama dengan kerja keras ft unsur .

Banyak juga yang tidak sekolah dan tidak menjadi apa-apa. Tapi terhadap dasarnya hidup mesti mempunyai ilmu. Masalah berhasil atau tidak bukan patokan kuliah atau tidak, sebab menuntut pengetahuan tidak terbatas.

Terkadang, sesungguhnya kurikulum tidak relevan dalam kehidupan nyata. Seperti halnya mengenai penerapan kalkulus, bukan mengenai cuma penugasan kalkulusnya, kecuali sesungguhnya sebagian bidang yang perlu hal berikut secara detail.

Namun, berasal dari hal tersebut, pasti belajar bagaimana pola pikir terbentuk saat berusaha menguasai mata kuliah tersebut, bersikap kritis, masalah solving lewat teori yang ada, manajemen saat ketika terkandung banyak tugas, map thinking, dan menentukan prioritas.

Realita banyak lulusan kuliah tidak bekerja, lebih-lebih yang serupa sekali tidak mengenyam bangku pendidikan. Para pembesar bangsa ini dan banyak kalangan orang tajir dan borjuis, mati-matian sehingga anaknya kuliah di universitas mentereng di dunia.

Orang sekolah tinggi sehingga bisa cari kerja, mindset berikut semestinya juga menanamkan untuk menciptakan lapangan kerja. Kuliah bukan tidak penting, tetapi tidak cukup.Kisah kehidupan aku untuk masuk ke Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia mengakibatkan aku mesti belajar lebih keras. Tentang seorang anak yang menentukan menambah belajar di les bimbel sampai ibu aku berutang.

Teman saya, demi les bimbel, ayahnya mengorbankan duwit untuk penyembuhan sampai meninggal, sehingga dia masuk kuliah. Sehingga, kuliah itu penting, tetapi kuliah saja itu tidak cukup.

Saya sebagai pelajar berpikiran proses pendidikan di Indonesia terkesan kaku, sebab berasal dari bangku paling rendah sampai bangku tertinggi pendidikan di Indonesia layaknya terpenjara oleh suatu aturan, yang mengakibatkan generasi muda tidak berani mengeksplorasi kemampuan diri masing-masing.

Mudahnya, apa yang diajarkan itu berada terhadap textbook. Bahkan sampai aku menjadi mahasiswa, masih merasakan hal yang serupa.

Seringnya aku cuma mengandalkan PowerPoint (PPT) yang diberikan dosen dan tidak manfaatkan saat di luar kelas untuk menggali lebih mengenai keilmuan selinier maupun nonlinier. Sehingga, sebab kurangnya bahan baca yang aku pahami, saat diskusi cenderung diam sebab amat berlainan bersama dengan jurusan sosial.

BACA JUGA  Pengaplikasian Ceiling Filter Dalam Painting Booth

Jurusan saince memaksa untuk terkandung basic literatur ataupun penelitian yang pernah dilakukan untuk berargumen, sehingga daripada takut jawaban tidak benar lebih baik untuk diam. Hal layaknya inilah yang mengakibatkan mahasiswa menjadi pasif dan diam.

Sementara kecuali melihat pendidikan di negara maju, justru ruang diskusi terbuka lebar, tersedia peluang untuk mengutaran ide pikiran. Di samping sebab fasilitas tersedia, kemampuan dan skill Sunber Daya Manusia (SDM) yang mampu, dan formalitas yang terbangun.

Beberapa persoalan berasal dari kawan mahasiswa di universitas lain menganggap, daripada mendebat dosen lebih menentukan diam, sebab kecuali dosen tidak bahagia lebih-lebih marah bersama dengan argument dan menjadi disudutkan, justru dapat mengimbuhkan nilai jelek.

Opini aku sebagai mahasiswa mesti berani mengungkap pendapat daripada diam, lebih-lebih kecuali hal berikut tidak benar dan kami tidak berani menyuarakan.
Saya rasa, kecuali argumen disampaikan bersama dengan attitude yang layak, mendebat sesuai konteks materi, ruang dialog dapat berjalan baik dan terbentuk iklim diskusi yang membangun.

Tradisi memperlihatkan bahwa umumnya orang tua menilai proses belajar mesti meraih nilai tinggi. Cerdas dikategorikan cuma nilai tinggi, lulus cepat, cumlaude, dan lain-lain. Jarang orang tua mencondongkan akhlak dan etika daripada nilai.

Karena sejatinya esensi belajar itu luas, bukan cuma berpacu terhadap hasil. Proses belajar mengakibatkan anak muda menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Belajar mesti diperhatikan esensi, siapa, dan juga kegunaannya.

Pendidikan di Indonesia dalam kacamata masyarakat amat sempit. Mereka berpikiran esensi belajar adalah akademisi. Pendidikan lebih luas daripada akademisi. Akademik penting, tetapi bukan yang terpenting.

Banyak yang beropini pendidikan Indonesia umumnya teori daripada praktik. Pintarnya hafalan saja, saat ketika turun ke lapangan, cuma plonga-plongo. Sehingga, banyak pengangguran terdidik.

Opini saya, demi lahirnya kompetensi lulusan universitas yang baik, teori penting, tetapi juga mesti diimbangi bersama dengan praktik.

Perumpaaan ketika di universitas kami cuma diajari satu jenis renang dan cuma belajar di kolam renang, saat dalam dunia sesungguhnya kami mesti memahami banyak jenis renang sebab mesti mengarungi luasnya lautan dan dalamnya samudra, bertemu hiu, atau hal mengerikan lainnya.

Saya rasa, tidak selalu menyalahkan lembaga dan pemerintah, mahasiswa juga mesti mengeksplore diri dan sebagai agent of change membantu untuk ikut berpartisipasi melakukan perbaikan proses pendidikan Indonesia.

Jika kuliah cuma mengidamkan bisa gelar dan bisa foto wisuda, sesudah itu tidak tersedia visi yang mengidamkan dicapai, aku rasa, pertanyaan kuliah nggak perlu bisa dijawab.
Berbeda ketika menaggap kuliah di universitas, bisa bertemu mata kuliah, dosen bergengsi dan menginspirasi, network sesama orang cerdas dan berpikiran maju.

Kuliah perlu untuk yang amat berkeinginan kuliah, kecuali tidak ingin, sebaiknya tidak kuliah sebab menghabiskan waktu, dana, dan menambah jumlah pengangguran terdidik Indonesia.

BACA JUGA  Bagaimana Cara Membuat Artikel On Page Yang Efektif?

Kuliah layaknya kunci yang cuma bisa mengakses pintu masuk rumah, segi lain yang dapat bermain, sesuai jalur ceritanya. Hanya saja, untuk masuk rumah, tetapi kamu tidak mempunyai kunci, bagaimana susahnya? Seperti itu klise mengenai kuliah.

Opini saya, pasti banyak tersedia beasiswa yang menawarkan kuliah layaknya beasiswa Etos, Bidikmisi, dan lainnya. Jadi, yang amat berkeinginan kuliah selalu motivasi biarpun keterbatasan ekonomi.

Saat aku menjadi mahasiswa, banyak realita yang aku dapatkan, Banyak mahasiswa bidikmisi yang semestinya berasal dari kategori kurang bisa tetapi mempunyai HP iphone, sepatu converse, kerap nonton bioskop dan konser, modif motor lebih-lebih jenis motor ninja, memakai vapor, dan membeli skincare mahal.

Jika berpikiran positif, barangkali itu hasil rewards lomba atau lainnya. Namun, realitanya berbeda.

Saran saya, sebaiknya dilakukan survei program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP K) untuk diseleksi ketat, bukan cuma yang mempunyai kartu saja, tetapi bisa segera ke rumahnya. Banyak orang kaya mengajukan. Sedangkan yang miskin tidak dapat. Supaya tidak tidak benar sasaran.

Realita, mudahnya mengakibatkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), saat kondisinya mampu. Perangkat desa semestinya lebih detil mendata warganya.

Ironi akademi di Indonesia. Gaji para pendidik di Indonesia amat kecil dibandingkan tanggung jawab kerja yang dipikulnya.
Gaji anggota dewan di Indonesia bisa jauh lebih besar dibandingkan seorang profesor di Indonesia. Sehingga, banyak yang lebih menentukan menjadi anggota dewan daripada menjadi profesor.

Peluncuran program “ Merdeka Belajar” oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, juga semestinya meluncurkan “Merdeka Mengajar”. Kemerdekaan hak segala bangsa bukan cuma murid yang mesti merdeka belajar, guru juga mesti merdeka mengajar.

Selama ini, guru honorer amat terjajah. Selain progres karir tidak memahami dan ketidakpastian pengangkatan PNS, syarat-syarat berkas pengajuan sertifikasi tidak kalah rumit. Belum juga beban tugas lainnya.

Di Amerika, gaji seorang presiden di universitas lebih besar daripada gaji presiden Amerika. Gaji Presiden Barack Obama cuma kurang lebih setengah berasal dari gaji presiden universitas di Amerika Serikat.

Semoga Indonesia lebih baik. Semoga banyak orang layaknya Pak Nadiem Makarim untuk melakukan perbaikan proses pendidikan di Indonesia. Sehingga, kuliah itu penting, tetapi bersama dengan kuliah saja tidak cukup untuk mengarungi kejamnya kehidupan.