Mau jalan jalan ke kota sydney ? simak fakta ini

Apa yang ada di bayangan Anda pada orang-orang dan negara-negara Australia?

Sebelum menginjakkan kaki di negeri ini di bawah, saya terlihat orang-orang Australia adalah sekelompok pemabuk yang suka membuat masalah. Ha ha ha. Ya maaf, efek ini melihat perilaku warga Australia yang berlibur di Bali begitu. Wkwk. negerinya sendiri, saya menganggap negara yang mahal. Jadi saya tidak menempatkan Australia pada daftar prioritas ‘negara harus pergi.

Tapi alpanya keinginan ini berubah saat BuJendral a.k.a mama saya bertitah ingin ke Australia.

Ya ampun saya sebenarnya sudah modus sekali memberi banyak pilihan negara tujuan wisata lainnya kemudian mengerahkan trik marketing untuk menggiring opini Mama biar mau ke negara lain selain Australia. Tapi apa daya, sekali Mama berkata liburan ke Australia, Australia it is! Hahaha!

*basically you don’t argue with a Leo*

Maka berangkatlah kami jalan-jalan ke Sydney ( sekalian kumpulin info data sydney ), Australia. Sempat bingung sih mau ke Sydney atau Melbourne tapi dapat tiket dengan harga terjangkaunya untuk liburan ke Sydney dulu yowis. Hehehe.

 

Liburan ke Sydney yang singkat ini mampu mengubah beberapa pandangan saya tentang negara dan orang Australia. Berikut adalah tujuh hal tentang Sydney dan Sydneysiders (sebutan untuk orang Sydney) yang bisa saya catat dari liburan ke Sydney kami.

 

1. SYDNEYSIDERS (TERNYATA) SOPAN DAN RAMAH

Seperti yang saya utarakan di atas, saya mendapat kesan orang Australia itu suka mabuk dan membuat keributan dari melihat tingkah polah wisatawan Australia yang berlibur di Bali. Pokoknya kalau ada keributan karena wisatawan lalu ditanya orang mana yang buat keributan dan dijawab Australian, maka banyak orang langsung mafhum sambil berujar, “Oh, pantas.” – saking seringnya mereka banyak gaya. Hihihi.

Tapi ternyata, sepanjang jalan-jalan di Sydney, tidak satu kali pun kami temui orang mabuk dan mengganggu di jalan. Padahal saya dan Mama menginap di daerah Kingscross yang mana keluar stasiun itu (ternyata) adalah pusat kehidupan malam (ada banyak sekali sexy barsex shop), tapi suasananya sangat terjaga dan aman, jauh dari kesan dodgy.

Sydneysiders juga ternyata sangat ramah dan sopan. Saya selalu terbiasa menyapa ‘Hi, good morning!’ sebelum mengutarakan pertanyaan/keinginan ke orang lain yang saya temui dalam perjalanan; baru di Sydney lah sapaan saya SELALU dibalas. Dibalasnya lengkap pakai ditanyakan kabar.

Beberapa kali di awal, pertanyaan kabar ini malah membuat blank karena kaget ada pertanyaan yang membalas sapaan saya.

Saya: Hi, good morning! – bersiap mengutarakan pertanyaan/keinginan.
Mbak/masnya: Hi, how are you today?
Saya: Good. Thank you. How are ya?
Mbak/masnya: Good!

*kemudian sunyi*
*sepi*

Eh tadi saya mau nanya apa deh? -_____-/malahlupa/

Sapaan ini penting kayaknya bagi seluruh Sydneysiders dan mereka benar bertanya, bukan sekadar basa-basi.

Di Starbucks, laki-laki yang antri depan saya langsung nyerocos mengatakan pesanannya saat sampai di konter. Barista Starbucksnya diam mendengarkan dan saat laki-laki itu sudah selesai nyerocos, Mas Barista berkata, “Hi, how are you today?”

Laki-laki itu menjawab singkat, “Fine, thanks.” dan Mas Barista bertanya, “What would you like to order?” MUAHAHAHAHA diulang deh tu tadi pesanannya. Hihihi. Nyerocos ae sih Masnyaaaa.. :))

Pengemudi Australia juga sopan dan penuh pengertian. Kesadaran berkendaranya tinggi. Kalau mereka lihat kami sedang menunggu di pinggir jalan untuk menyeberang, mereka akan berhenti untuk memberikan jalan. Misal kami berhenti di kiri jalan, mobil dan motor yang berjalan di sisi jalan tempat kami berdiri langsung berhenti, nah pas kendaraan di sisi kiri itu berhenti, kendaraan dari arah sebaliknya langsung otomatis ikut berhenti untuk juga memberikan jalan. Menyeberang jadi lebih mudah dan tidak menakutkan lagi deh. Hehehe.

Bondi Skate Park Sydney
Bondi Skate Park Sydney

 

2. TIDAK MUDAH MENEMUKAN STARBUCKS DI SYDNEY

Pikiran saya: untuk kota semodern Sydney, Starbucks pasti mudah ditemukan! Eh ternyata tidak, Rencang-rencang! Di Sydney yang notabene kota urban yang sibuk, Starbucks JUSTRU susah ditemukan!!

Apa orang Australia bukan penikmat kopi?

Yang saya lihat, mereka penikmat kopi, tapi mereka lebih suka membeli kopi di kedai kopi lokal. Ada satu kedai di jalan yang saya dan Mama lalui untuk menuju stasiun dari hotel; kedainya kecil banget, bahkan pintu masuknya hanya muat untuk satu orang. Tapi di pagi hari, kedai ini selalu penuh.

Yang saya lihat juga, nggak banyak orang Australia yang suka nongkrong di kedai kopi. Jadi seringnya orang pesan untuk dibawa jalan. Kedai kopi lokal banyak tersebar di stasiun-stasiun dan hampir setiap kedai yang kami lihat sedang melayani pembeli. Menarik ya.

 

3. AUSTRALIA NEGARA MAHAL (tapi mahalnya masuk akal)

Saya tuh jadi relijius sejak mengurus perjalanan ke Jepang. Setiap kali lihat harga penginapan, saya langsung berucap astagfirullah.

Relijius banget kan. Hihi.

Saya kira Australia juga akan sama mahal-nggak-masuk-akalnya dengan Jepang, eh Puji Tuhan ternyata tidak. Mahal sih memang iya, tapi setidaknya mahalnya masuk akal. Harga yang dikeluarkan, menurut saya, sebanding dengan apa yang didapat.

Banyak yang menanyakan dan tertarik dengan hotel tempat saya dan mama menginap. Namanya MacLeay Hotel. Harga yang kami bayarkan waktu itu adalah sekitar 1,7 juta rupiah per malam dan yang kami dapatkan adalah satu unit studio apartemen dengan ruang tidur, kamar mandi, dan juga dapur.

 

Lokasinya cukup dekat dengan stasiun dan berada di lingkungan yang strategis, aman, dan menyenangkan. Dapurnya lengkap pula ada kompor dan microwave. Pemandangan dari jendelanya pun breathtaking — kalau kata Kak Richo dan Gio. Hihihi.

 

Secara umum, harga makanan dan minuman di Sydney pun masih masuk akal menurut saya. Makanan seharga 50.000—60.000 rupiah sekali makan ada.

 

Cari yang sedikit lebih murah bisa beli frozen food di supermarket dan panaskan di hotel. Cari yang lebih mahal banyak. Jenis makanannya pun beragam, nggak cuma western saja.

Australia, khususnya Sydney, itu seperti melting pot – tempat berkumpulnya manusia dari segala bangsa. Jadi jangan heran kalau kita melihat ada kebab, falafel, bahkan paella dijual di pasar kaget akhir pekan.

Transportasi bagaimana?

Menurut saya, jalan-jalan naik kereta di Sydney masih terhitung mahal. Tapi naik bus itu murah sekali. Sayangnya, di bus tidak disebutkan nama pemberhentian selanjutnya. Jadi ya kalau nggak mau perhentiannya terlewat, bilang saja ke pengemudinya mau turun di mana, minta beliau beritahu kalau waktunya turun.

Kalau saya dan Mama memang jalan santai, jadi ya sekenanya feeling saya saja. Feeling saya harus turun di perhentian berikutnya, ya saya pencet bel dan turun. Kalau salah ya sudah, dibuat tertawa saja. Tinggal lanjut naik bus selanjutnya atau lanjut jalan kaki. Hihihi.

Jalan kaki saat liburan ke Sydney jadi pilihan paling cihuy dan menyenangkan. Trotoarnya besar dan udaranya bersih jadi jalan kaki pun nyaman. Pemandangannya juga aduhay.

4. SUSAH CARI WIFI GRATIS DI SYDNEY

Karena saat saya dan Mama jalan-jalan ke Sydney itu saya sudah resign dan menikmati status baru sebagai pengangguran, jadi saya nggak butuh terhubung ke dunia maya setiap saat untuk memantau pekerjaan. Saya jadi nggak beli nomor lokal untuk sambungan internet, pikiran saya, nanti pakai wifi saja. Eh siapa sangka ternyata di Sydney susah sekali mendapatkan koneksi internet gratis via wifi. HAHAHAHA.

Di taman nggak ada, masjid nggak ada, gereja bahkan stasiun juga nggak ada. Saya yakin kedai kopi yang lokal dan kecil pun tidak menyediakan koneksi internet gratis. Sekalinya saya dapat koneksi wifi gratis hanyalah di sepanjang Oxford Street. Kiri kanan Oxford Street itu dipenuhi toko-toko segala macam, curiga disediakannya koneksi wifi gratis di Oxford Street Sydney adalah demi lancarnya bisnis jastip para wisatawan dari Indonesia deh. Hihihi.

 

5. VISA AUSTRALIA ADALAH E-VISA

Untuk pengumpul visa stiker dan cap, Australia bukan negara yang ingin kalian tuju. Hehehe. Australia tidak memberikan visa stiker maupun cap! Visa yang diberikan adalah visa elektronik yang dikirim ke surel pemohon. Nanti dari surel, keterangan visa bisa dicetak untuk keperluan penerbangan dan imigrasi. Tapi saat sampai imigrasi Sydney, cetakan visa elektronik saya nggak diminta.

Saya rasa ini karena visa elektronik yang diberikan sudah tersambung secara daring dengan aplikasi yang dibuka Petugas Imigrasi di Australia. Barusan saya cek, paspor saya juga tidak dicap. Jadi nggak ada tanda fisik saya pernah jalan-jalan ke Australia di paspor saya, yang ada hanyalah memori yang tersimpan nyata di dalam kalbu ini. TSAH!! Hihihi.

Untuk yang mau irit halaman paspor seperti saya, visa elektronik ini menyenangkan karena setidaknya ada satu halaman nggak jadi penuh oleh visa stiker. Hihihi. Jadi jatah halaman itu bisa untuk visa/cap negara lain dan memundurkan waktu untuk mengganti paspor karena halaman penuh. Win liao!

 

6. SYDNEY SANGAT RAMAH ANJING

Melihat ke arah mana saja, bisa dipastikan ada Sydneysiders yang sedang membawa anjingnya jalan-jalan. Pemandangan ini jamak di Sydney. Kotanya ramah anjing. Me luv..

Mulai dari French Bulldog hingga Alaskan Malamute ada di jalan. Bahkan beberapa kali saya lihat seorang ibu yang mendorong stroller berisi bayi dengan seekor anjing berjalan cepat di samping strollernya. Lucu banget! Terlihat sekali bahwa anjing memang bagian dari keluarga, bukan hanya sebagai hewan peliharaan.

Taman-taman di Sydney pun ramah anjing. Senangnya, semua taman maupun jalan terjaga tetap bersih, tidak terlihat satu pun kotoran anjing. Pas saya bertemu seorang Mamang yang membawa Scooby Doo besar di Hyde Park, saya jadi tahu bagaimana taman di Sydney bisa tetap bersih. “He recently passed the potty training.” kata Mamang tentang anjingnya. Raut wajahnya terlihat bangga.

Jadi di Sydney (atau seluruh Australia?) ada latihan-latihan tertentu yang harus dilalui seekor anjing yang membuat mereka bisa dibawa pelesiran ke taman-taman umum di sana. Kalau belum lulus ya belum boleh dibawa. Paling boleh dibawa jalan saja dan kalau dia pee atau poo, ya harus diambil/dibersihkan sama sang empunya. Bagus ya, saya suka tipe orangtua yang kayak begini. Tahu tanggung jawab.